Apa aku harus jadi orang lain,
Agar engkau bisa selalu memujiku?
Apa aku harus menahan segala kesakitan lebih lagi,
Agar engkau bisa merasakan niat baikku?
Apa aku harus terus rasakan sesaknya dibandingkan,
Agar aku dapat menerima bahagiamu?
Yaa Allah,
Ternyata segala niat baikku salah,
Aku melakukannya karena umat-Mu,
Aku berkarya untuk mengharap pujiannya,
Aku beramal shalih dan beribadah untuk disanjungnya.
Baik,
Kukembalikan lagi hatiku pada-Mu,
Kubawa niat segalanya karena-Mu,
Karena Engkau yang selalu memantau,
Karena Engkau yang tak lepas menemani diri pada berbagai dimensi,
Karena Engkau Yaa Allah yang tak henti memberi bahagia.
Aku mengerti,
Salahnya niat hanya kan membawa pedih,
Mengharapkan pujian dari mereka hanya kan memberi sakit,
Dan kala kukembalikan semua pada-Mu,
Aku pun tak peduli pedasnya ucapan yang terdengar,
Atau pun manisnya pujian yang menggelegar.
Teruntuk diri,
Jangan tumbang jika dicaci,
Dan jangan melayang jika dipuji,
Karena sebaik-baiknya pemberi penenang jiwa,
Bukan pujian manusia,
Tapi kala usaha dan ibadah kita diterima oleh-Nya,
Seburuk-buruknya rasa kecewa,
Bukan cemohooan sesama,
Tapi kala usaha dan ibadah kita hanya membawa diri ke neraka.
.
.
.
.
.
-ALS- @ayumdaigo
0 komentar: